Anak
Muda, berkatalah: SEKARANG !
KETIKA Amerika Utara
berperang melawan bagian Selatan, Kolonel Rahl adalah salah seorang yang
diserahi memimpin pasukan dari Utara. Selagi sang Kolonel itu beristirahat,
sambil main kartu, sekonyong-konyong (tiba-tiba) seorang berkuda datang. Ia
adalah seorang kurir dari perbatasan yang membawa pesan dari komandannya.
Sepucuk surat diberikan
oleh kurir itu kepada Rahl. Nampaknya Kolonel itu sangat asyik dengan permainan
kartunya. Surat itu diterimanya dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kolonel itu
mungkin berpendapat, akan membaca surat itu setelah main kartu. Ia tak
menyadari bahwa surat itu berisi pemberitahuan musuh dari Selatan sedang bergerak maju dengan persiapan yang
matang.
Sang Kolonel
terperanjat ketika melihat musuh sudah begitu dekat. Padahal ia hanya menunda
beberapa puluh menit saja membaca surat yang diterimanya. Meski akhirnya
peperangan itu dimenangkan oleh pihak Utara, tetapi sang Kolonel harus
membayarnya dengan amat mahal. Ia tewas dalam pertempuran yang mendadak itu.
Joe Stroker,
petugas rem kereta api, suatu hari keretanya macet karena katup silindernya
mengalami kerusakan. Kereta api dari arah depan sebentar lagi akan melintas.
Beberapa kawannya telah memperingatkan kepada Joe supaya secepat mungkin menyalakan
lampu memberi tanda bahaya.
Joe dengan santai
menjawab: “Beres!”. Dan ia melanjutkan meneguk minuman di gelasnya. Kemudian
dengan berjalan gontai setengah mabuk, ia meraih jaketnya dan mengambil korek
api untuk menyalakan lampunya. Tetapi ketika lampu itu menyala, kereta api dari
depan sudah demikian dekat. Dan joe dengan melongo menyaksikan tabrakan dua
kereta api.
Joe sendiri selamat.
Tetapi ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri ketika melihat darah para korban
yang membanjir. “Seandainya aku tidak terlambat, seandainya aku tidak mengambil
gelasku lagi, seandainya langsung menyalakan lampu ketika diperingatkan,
seandainya…. Seandainya”.
Penyesalan Joe tak
pernah kunjung habis. Orang kemudian menyaksikan laki-laki itu sepanjang hari
menyesali diri dengan dberkata: “seandainya, seandainya… seandainya…”. Joe telah
gila.
Kita masing-masing
tentu memiliki lagi sekian banyak pengalaman dalam hidup sehari-hari yang
berulang kali mengajarkan kepada kita bahwa kerugian-kerugian besar sering
disebabkan oleh sikap kita yang keliru dalam soal kecil.
Dan soal kecil yang
sering kita lakukan adalah kegemaran berkata: “Nanti dulu”.
Kata pendek ini punya
daya serap yang besar untuk melumpuhkan kesuksesan manusia. Potensi manusia tak
bisa tergali secara maksimal karena dihinggapi penyakit gemar berbuat: Nanti
dulu!
Dale Carnagie,
psikolog Amerika kenamaan pernah bilang, kegagalan manusia sering disebabkan
karena dia gemar menunda. Dan jarang manusia itu gagal karena benar-benar dia
tidak mampu.
Carnagie sendiri memang
pernah mengalami peristiwa semacam itu. Ketika ia masih tinggal di tempat kost
dengan kamar sempit, makan tak bergizi, pakaian terbatas dan suka mengeluh, ia
waktu itu seorang pemuda yang suka berkata nanti dulu. Dan ketika ia ingin
mengubah dunia hidupnya, maka di kamarnya, dekat meja tulisnya diletakkan
batu. Dan pada batu itu ditulis satu
kata: Sekarang!
Setiap kali Carnagie
hendak menunda pekerjaan dan rencana, batu itu seakan menegurnya: “Carnagie,
lakukan sekarang ! Sekarang !”. Hasilnya, menurut Carnagie sendiri luar biasa.
Potensi manusia
sendiri sebenarnya luar biasa. Tidak ada manusia yang telah mampu menggali
potensi dirinya sampai seratus persen.
Sebuah buku: Iman Jalan Menuju Hidup Sukses karangan
Nadjih Ahyad melukiskan kemampuan otak manusia yang luar biasa. Kebanyakan
manusia hanya menggunakan lima persen saja dari kemampuan otaknya. Dan
orang-orang yang dikenal kerja keras tanpa kenal putus asa, menggunakan
kemampuan otaknya tidak sampai 40 persen. Sebuah Institut yang menyelidiki kemampuan
otak menerangkan, seandainya manusia itu menggunakan 50 persen saja dari
kemampuan otaknya, ia akan menguasai 40 bahasa, hafal satu set Encyclopedia yang tebal-tebal dan
menguasai 12 cabang kesarjanaan sekaligus. Jadi mungkin dia seorang yang sekaligus
menjadi dokter, dokter gigi, dokter hewan, insinyur, sarjana hukum, sarjana
ilmu sosial, sarjana ekonomi, dan seterusnya.
Kelemahan organisasi
kita, kelompok kita dan kita sendiri adalah kelemahan kita dalam menyusun
daftar kerja. Sekian banyak organisasi Islam yang ada di negeri kita. Dan
sebagian besar memiliki penyakit tidak punya program kerja yang terencana baik.
Gerak kita cenderung mendadak. Dan tentu saja gerak itu akan hangat-hangat tahi
ayam.
Dan kalau toh ada
perencanaan, kita cenderung mengulur-ulur waktu. Ah, sebentar lagi, ha, besok
saja toh masih ada waktu, ah batas akhirnya masih jauh, ah…. ah…. ah…
Menunda memang sebuah
kenikmatan tersendiri. Meski akhirnya kita sering harus membayarnya dengan
harga yang amat mahal.
KH Mas Mansur ketika
menjadi ketua PP Muhammadiyah pernah berpesan singkat: Tepatilah waktu! Dan
pesan itu diulang kembali oleh AR. Fachruddin, PP
Taken
from: Majalah Panji Masyarakat No.
306 (Sungai Raya Kandangan KALSEL INDONESIA, Sabtu/25-10-2003_sahabat anda_Riduan - رضوان)