KIRIM SMS GRATIS

Minggu, 26 Juni 2016

Anak Muda, berkatalah: SEKARANG !



Anak Muda, berkatalah: SEKARANG !
KETIKA Amerika Utara berperang melawan bagian Selatan, Kolonel Rahl adalah salah seorang yang diserahi memimpin pasukan dari Utara. Selagi sang Kolonel itu beristirahat, sambil main kartu, sekonyong-konyong (tiba-tiba) seorang berkuda datang. Ia adalah seorang kurir dari perbatasan yang membawa pesan dari komandannya.
Sepucuk surat diberikan oleh kurir itu kepada Rahl. Nampaknya Kolonel itu sangat asyik dengan permainan kartunya. Surat itu diterimanya dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kolonel itu mungkin berpendapat, akan membaca surat itu setelah main kartu. Ia tak menyadari bahwa surat itu berisi pemberitahuan musuh dari Selatan  sedang bergerak maju dengan persiapan yang matang.
Sang Kolonel terperanjat ketika melihat musuh sudah begitu dekat. Padahal ia hanya menunda beberapa puluh menit saja membaca surat yang diterimanya. Meski akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh pihak Utara, tetapi sang Kolonel harus membayarnya dengan amat mahal. Ia tewas dalam pertempuran yang mendadak itu.
Joe Stroker, petugas rem kereta api, suatu hari keretanya macet karena katup silindernya mengalami kerusakan. Kereta api dari arah depan sebentar lagi akan melintas. Beberapa kawannya telah memperingatkan kepada Joe supaya secepat mungkin menyalakan lampu memberi tanda bahaya.
Joe dengan santai menjawab: “Beres!”. Dan ia melanjutkan meneguk minuman di gelasnya. Kemudian dengan berjalan gontai setengah mabuk, ia meraih jaketnya dan mengambil korek api untuk menyalakan lampunya. Tetapi ketika lampu itu menyala, kereta api dari depan sudah demikian dekat. Dan joe dengan melongo menyaksikan tabrakan dua kereta api.
Joe sendiri selamat. Tetapi ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri ketika melihat darah para korban yang membanjir. “Seandainya aku tidak terlambat, seandainya aku tidak mengambil gelasku lagi, seandainya langsung menyalakan lampu ketika diperingatkan, seandainya…. Seandainya”.
Penyesalan Joe tak pernah kunjung habis. Orang kemudian menyaksikan laki-laki itu sepanjang hari menyesali diri dengan dberkata: “seandainya, seandainya… seandainya…”. Joe telah gila.
Kita masing-masing tentu memiliki lagi sekian banyak pengalaman dalam hidup sehari-hari yang berulang kali mengajarkan kepada kita bahwa kerugian-kerugian besar sering disebabkan oleh sikap kita yang keliru dalam soal kecil.
Dan soal kecil yang sering kita lakukan adalah kegemaran berkata: “Nanti dulu”.
Kata pendek ini punya daya serap yang besar untuk melumpuhkan kesuksesan manusia. Potensi manusia tak bisa tergali secara maksimal karena dihinggapi penyakit gemar berbuat: Nanti dulu!
Dale Carnagie, psikolog Amerika kenamaan pernah bilang, kegagalan manusia sering disebabkan karena dia gemar menunda. Dan jarang manusia itu gagal karena benar-benar dia tidak mampu.
Carnagie sendiri memang pernah mengalami peristiwa semacam itu. Ketika ia masih tinggal di tempat kost dengan kamar sempit, makan tak bergizi, pakaian terbatas dan suka mengeluh, ia waktu itu seorang pemuda yang suka berkata nanti dulu. Dan ketika ia ingin mengubah dunia hidupnya, maka di kamarnya, dekat meja tulisnya diletakkan batu.  Dan pada batu itu ditulis satu kata: Sekarang!
Setiap kali Carnagie hendak menunda pekerjaan dan rencana, batu itu seakan menegurnya: “Carnagie, lakukan sekarang ! Sekarang !”. Hasilnya, menurut Carnagie sendiri luar biasa.
Potensi manusia sendiri sebenarnya luar biasa. Tidak ada manusia yang telah mampu menggali potensi dirinya sampai seratus persen.
Sebuah buku: Iman Jalan Menuju Hidup Sukses karangan Nadjih Ahyad melukiskan kemampuan otak manusia yang luar biasa. Kebanyakan manusia hanya menggunakan lima persen saja dari kemampuan otaknya. Dan orang-orang yang dikenal kerja keras tanpa kenal putus asa, menggunakan kemampuan otaknya tidak sampai 40 persen. Sebuah Institut yang menyelidiki kemampuan otak menerangkan, seandainya manusia itu menggunakan 50 persen saja dari kemampuan otaknya, ia akan menguasai 40 bahasa, hafal satu set Encyclopedia yang tebal-tebal dan menguasai 12 cabang kesarjanaan sekaligus. Jadi mungkin dia seorang yang sekaligus menjadi dokter, dokter gigi, dokter hewan, insinyur, sarjana hukum, sarjana ilmu sosial, sarjana ekonomi, dan seterusnya.
Kelemahan organisasi kita, kelompok kita dan kita sendiri adalah kelemahan kita dalam menyusun daftar kerja. Sekian banyak organisasi Islam yang ada di negeri kita. Dan sebagian besar memiliki penyakit tidak punya program kerja yang terencana baik. Gerak kita cenderung mendadak. Dan tentu saja gerak itu akan hangat-hangat tahi ayam.
Dan kalau toh ada perencanaan, kita cenderung mengulur-ulur waktu. Ah, sebentar lagi, ha, besok saja toh masih ada waktu, ah batas akhirnya masih jauh, ah…. ah…. ah…
Menunda memang sebuah kenikmatan tersendiri. Meski akhirnya kita sering harus membayarnya dengan harga yang amat mahal.
KH Mas Mansur ketika menjadi ketua PP Muhammadiyah pernah berpesan singkat: Tepatilah waktu! Dan pesan itu diulang kembali oleh AR. Fachruddin, PP
Taken from: Majalah Panji Masyarakat No. 306 (Sungai Raya Kandangan KALSEL INDONESIA, Sabtu/25-10-2003_sahabat anda_Riduan - رضوان)